Kamis, 27 Januari 2011

pemikiran al-ghazali

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Di beberapa waktu akhir-akhir ini, studi keislaman di barat semakin berkembang. Anjuran untuk melihat kembali tokoh-tokoh muslim klasik sangat ditonjolkan. Hal tersebut dimaksudkan untuk meneliti dan menelaah ulang budaya muslim yang pernahh menjadi perekat antara budaya Eropa Modern dan Yunani.
Bahwasannya budaya muslim klasik pernah menjadi tali penghubung antara budaya Eropa Modern dan Yunani purba, sepertinya semakin memudar. Ketika orang-orang Eropa menemukan kembali naskah-naskah kuno filsafat Yunani. Dengan sendirinya mereka meninggalkan kajian filsafat muslim yang pernah berjasa menyebarluaskan fundamental ideas Yunani melalui karya-karya filsuf muslim, seperti al-Kindi, al-Farabi, ibn suna,ibn Rusd dan lainnya.
Jika demikian keadaanya di dunai barat, didunia muslim sendiri kita kurang apresiatif terhadap kajian filsafat, mereka lebih menyukai hal-hal yang praktis. Oleh karena itu kajian yang berkesinambungan dalam bidang pemikiran filosofis baik yang menyangkut logika, konsep maupun teori terasa terhambat.
Ketika pemikiran Yunani mulai menyebar ke dunia muslim muncullah Imam al-Ghazali (1058-1111M ) sebagai tokoh penyelamat atas budaya pemikiran islami. Saat itu dengan tegas,al-ghazali menentang pemikiran metafisika ibn sina, seperti halnya Imanuel Kant menentang pemikiran metafisika Christian Wok di awal abad modern.
Dalam kajian di bawah ini, penulis akan menonjolkan dua aspek pemikiran al-ghazali yaitu pemikiran filosofis dan pemikiran sufismenya. Namun sebelum itu ada baiknya kita mengenal sekilas tentang kehidupan dan masa yang mengitarinya.




BAB II
PEMBAHASAN

1. Biografi al-Ghazali,
Abu Hanid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali yang biasa di panggil al-Ghazali lahir di Ghazalah bagian tepi kota Thus, Persia pada tahun 450 H (1050 M) dari keluarga peminta benang (ghazali shuf), sehingga namanya pun di nisbahkan orang kepada pekerjaan tersebut atau di nisbahkan kepada tempat lahirnya yaitu kampung ghazalah.
Ayah Al-Ghazali adalah seorang tasawuf yang saleh. Namun ia meninggal saat Al-Ghazali dan adiknya yang bernama Ahmad masih kecil. Akan tetapi sebelum meninggal ayahnya menitipkan Al-ghazali pada Imam Ahmad bin Muhammad Ar-Razkan di Thus yang juga seorang sufi, sehingga iapun dapat belajar dari sang sufi. Setelah itu ia merantau ke Jurjan dan belajar pada Abu Nashr Al-Ismail. Namun ia masih merasakan kahausan akan ilmu, maka ia berangat ke Naisabur belajar dengan Imam Al-Haramain Abdul- Ma’ali Al- Juwaini sampai tahun 1085 M. bersama ini ia belajar ilmu kalam, manthiq dan fiqih. Setelah Al-juwaini meninggal, maka Al-Ghazali berangkat ke Mu’askar dan bertemu dengan perdana mentri Bani Seljuk yang bernama Nizamul Muluk. Saat itu Nizamul Muluk sedang mencari tenaga pengajar untuk universitas yang baru didirikannya di Baggdad.. bernama universitas Nizamiyah. Selama memangku jabatan tersebut ia di liputi gemilangnya kemewahan dunia dan ilmu pengetahuan. Di masa inilah ia banyak menulis buku ilmiyah dan filsafat.dari sini pulalah muncul berbagai pertanyaan dari sanubarinya terhadap daya serap indra dan olahan akal betul-betul menyelimuti dirinya. Akhirnya ia menyingkir dari kursi kebesaran ilmiyahnya di Baghdad menuju Mekkah, kemudian ke Damaskus dan tinggal di sana sambil merenung, membaca, dan menulis. Dari kesunyian Damaskus mulailah tampak jalan terang yakni jalan sufi. Ia tidak lagi mengandalkan akal semata, tetapi disamping akal ada pula cahaya yang dilimpahkan Allah SWT untuk menutunnya pada jalan kebenaran.
Dari Damaskus ia kembali ke Baghdad dan seterusnya kembali ke kampungnya Thus. Disini ia menghabiskan hari-harinya dalam mengajarkan dan beribadah sampai ia meninggal pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H (1111 M) dalam usia 55 tahun dengan meninggalkan beberapa anak perempuan.

2. Karyanya
Meskipun beliau elah meninggal dunia, namun karya-karyanya tetap hidup di tengah-tengah dunia ilmiah. Keluasan ilmunya, argumentasinya-argumentasinya yang sukar di bantah membuat karyanya menjadi acuan para ilmuan. Sesuai dengan ilmunya, ia telah menulis berbagai buku, yaitu :
1. Di bidang fiqih dan usul : Al-Wajiz, Al-wasisth, dan Al Mustafa min illm al-ushul.
2. Di bidang ilmu kalam : Al-Iqtiqad fil-I’tiqad
3. Manthiq/ ilmu pasti : Mi’yarul-almi( standart ukuran pengetahuan ), Al-Qistas, al- Mustaqim (the just balance ), Mibakk al-Nazar fil al-Manthiq (the touch stone of proof in logic)
4. Teologi : Al-Muqidh min adh-dalal, Al- iqtishad fil al-Itiqad, Al-Risalah al-Qudsiyyah, al-arbain fi ushul ad-din,Mizan al-amar,ad durrah al-Fakhirah fi kasyf ulum al akhirah.
5. Tasawuf : Hiya ulumuddin ( kebangkitan ilmu-ilmu agama ),Kimiya assa’adah ( kimia kabahagiaan ), Isykah al-anwar (relung dari cahaya ).
6. Filsafat : Maqashidull falasifah (kelemahan para filosof), Al-Mungizu Minadh-dhalal (perjalanan hidup dalam mencari kebenaran, merupakan buku terakhir karya Al-ghazali).

Demikian karyanya selama perjalanan hidupnya yang merupakan cermin nyata dari jalan pemikirannya yang dimulai dari memahami hokum islam, kemudian berfalsafah dan terakhir tenggelam dalam dunia sufi. Atas kepandainnya dalam mempertahankan akidah sunni dari pemikiran filsafat yang berdasar akal semata dan pengaruh kebatinan yang telah keluar dari garis agama, dan atas karyanya itulah ia mendapat gelar Hujjatul- islam (Argumen Islam).

3. Al-Ghazali dan Pemikirannya
3.1 Pemikiran filosofis
Pokok-pokok pemikiran filosofis al-Ghazali, ketika menyanggah teori metafisika ibn sina dalam bukunya Tahafut al _ Falasifah adalah :
Pertama : Bahwa Allah hanya mengetahui hal-hal yang besar-besar dan tidak mengetahui hal-hal yang kecil.
Kedua : bahwa alam semesta ini adalah azali atau kekal,tanpa permulaan
Ketiga : Bahwa di akherat kelak yang di himpun hanyalah ruh, manusia bukan jasadnya.
3.2 Pemikiran Tauhid
Dalam kupasannya tentang tauhid ini ternyata al-Ghazali telah mencapai pada pembahasan tentang al-fana yang didalamnya ia membagi al-tauhid menjadi empat tingkatan yaitu :
Pertama : Al-Tauhid yang berwujud ucapan seseorang bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, sedang hati seorang tersebut lalai bahkan ingkar terhadapnya,seperti yang tampak pada orang munafiq.
Kedua : Al-Tauhid yang di ikuti dengan pembenaran hati terhadap apa yang telah di ucapkan. Tingkatan ini di jalani oleh orang awam dari kalangan kaum muslimin.
Ketiga : Dengan jalan al-kasyf seseorang melihat sesuatu yang beraneka ragam sebagai sumber dari tuhan yang satu. Tingkat ini di capai oleh para Muqabirin.
Keempat : Dalam tingkatan ini seseorang tidak melihat dalam wujud ini kecuali melihat tuhan saja. Hal ini dapat di saksikan oleh para shaddiqin. Para sufi menyebutnya sebagai al-fana fi al-Tauhid.
Menurut Al-Ghazali, Al-Tauhid dalam tingkat keempat ini tidak boleh dijelaskan secara mendalam. Karena ini kerupakan puncak dari ilmu-ilmu Mukasyafah, sedangkan rahasia-rahasia dari ilmu ini tidak di tuliskan dalam kitab. Sebab,seperti yang di katakana oleh para arifin,membukukan secara luas tentang rahasia ketuhanan merupakan kekufuran.
3.3 Pemikiran zuhd
Dalam ajaran tasawuf al-Ghazali, cara memperkuat dan memantapkan ma’rifah akan Allah dalam hati adalah dengan membersihkan hati itu dari segala kesibukan dunia. Maka timbullah konsep zuhd. Dalam kitab al-Arbain Ghazali mendefinisikan zuhd sebagai berpalingnya seseorang menjauhi urusan dunia,kendatipun ia mampu memperolehnya. Al-Ghazali membagi tingkatan zuhd dari segi tingkatan motivasi yang mendorongnya yaitu :
Pertama : Zuhd yang di dorong oleh rasa takut terhadap api neraka dan yang semacamnya. Zuhd dalam tingkatan ini adalah zuhdnya orang-orang pengecut.
Kedua : Zuhd yang di dorong oleh motif mencari kenikmatan hidup di akherat. Zuhd dalam tingkatan ini adalah zuhdnya orang-orang yang berpengharapan,yang hubungannya dengan Allah di ikat oleh ikatan pengharapan dan cinta,bukan ikatan takut dan ngeri.
Ketiga : zuhd yang di dorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari memperlihatkan apa selain allah dalam rangka membersihkan diri dari padanya dan menganggap remeh terhadap apa yang selain Allah. Zuhd dalam tingkatan ini sikap zuhd para arifin (orang-orang yang mencapai ma’rifah)

3.4 Filsafat Ketuhanan
Bahwa dalil-dalil akal saja tidaklah dapat untuk mengenal tuhan dengan sebenarnya, karena pengetahuan akal sangat terbatas, justru itu Tuhan membantu aktivitas akal yang terbatas itu dengan wahyunya,sebagai alat untuk mengenal Tuhan secara ringkas konsep ketuhanan yang di sampaikan al-Ghazali terdapat 3 pokok pemikiran yaitu :
Pertama : Masalah wujud. Dalam penetapan masalah wujud tuhan ini Al-Ghazali mengikuti tradisi ulama kalam Al- Asyari, Beliau menggunakan dalil aqli dan dalil naqli. Melalui dalil naqli yaitu melalui perenungan terhadap ayat-ayat Al-Quran atas fenomena alam yang serba teratur manusia akan sampai mengakui wujud Tuhan. Sedangkan secara dalil aqli al-Ghazali mempertentangkan wujud Allah dengan wujud makhluk. Wujud Allah adalah”Qadim” sedangkan wujud makhluk adalah “ Hadis” wujud yang hadis (bahar) menghendaki sebab gerak yang mendahuluinya sebagai penggerak yang mengadakannya,sebab musabab ini tidak akan berakhir sebelum sampai pada yang “qadim” yang tidak di cipta dan tidak di gerakkan. Sedangkan wujud Allah,jika ia hadis tentu akan menghendaki sebab musabab seperti itu juga, yang sudah pasti takkan ada pangkal pokok geraknya. Hal demikian adalah suatu hal yang mustahil dan takkan menghasilkan apa-apa.
Kedua : Masalah zat dan sifat Tuhan. Dalam membahas hal tersebut Al-Ghazali membatasi diri dengan mengemukakan hadis nabi SAW yang mendorong menusia memikirkan zat Allah. Dari itu ia menegaskan, bahwa akal manusia tidak akan sampai mencapai zat itu. Cukuplah bagi itu manusia hanya mengetahui sifat af’al-nya saja.
Ketiga : Masalah af’al. dalam masalah ini Al-Ghazali berpendapat,bahwa perbuatan Allah tidaklah terbatas dalam menciptakan alam saja, tetapi ia juga menciptakan perbuatan manusia tidaklah terlepas dari kehendak Allah. Manusia hanya di beri kekuasaan dalam lingkungan kehendakTuhan. Jadi pembuatan dan ikhtiar manusia adalah terbatas, dan tidak akan melampagaris-garis qadar. Dalam hal ini al-ghazali mengembalikan permasalahan kepada firman Allah : “ Allah sesatkan siapa yang di kehendaknya dan ia beri hidayah kepada siapa yang dia kehendaki.” ( QS. Ibrahim ayat 4)
3.5 Filsafat Akhlak
Al-Ghazali mendefinisikan akhlak dengan :” sifat yang tertanam dalam jiwa darimana timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan fikiran dan pertimbangan”. Jadi akhlak adalah milik jiwa yang menjadi sifat seseorang manusia, yang dengan sifat itu adalah milik jiwa yang menjadi sifat seseorang manusia,yang dengan sifat itu secara mudah ia dapat berbuat Akhlak itu timbul dari keseimbangan dua daya yang ada dalam diri manusia. Daya-daya itu adalah :
1. Daya Ilmu
2. Daya pengendalian marah
3. Daya pengendalian nafsu
4. Daya untuk menyeimbangkan ketiga daya di atas yaitu adil.
Jalan untuk mencapai akhlak itu dengan dua hal, Pertama memang sudah dikaruniakan tuhan melalui naluri insan. Kedua. melalui latihan amalan secara rutin, sebab amalan yang demikian akan memberikan kesan rutin,sebab amalan yang demikian akan memberikan kesan pada jiwa, maka dengan mudah anggota memperbuatkannya.
Tujuan akhlak luhur untuk menahan diri dari hawa nafsu untuk menguasai dunia dan mengalihkannya pada kenikmatan mencintai Allah SWT sehingga tidak ada yang lebih di rindukannya selain hasrat untuk menemui Allah.
3.6 Kebahagiaan
Bagi AliBhazali kebahagiaan itu ialah kebaikan atau keutamaan tertinggi. Kebaikan dan keutamaan tertinggi ialah kebahagiaan ukhraw. Pada intinya kebaikan itu sangat banyak dan dapat diambil intinya menjadi empat pokok, yaitu :
Pertama : kebaikan jiwa, yakni keutamaan ilmu; hikmah, iffah, syaja`ah
dan `adalah
Kedua : kebaikan badan : sehat, kuat, tampan / cantik dan panjang
umur
Ketiga : kebaikan luar badan : harta, keluarga, terhormat, dan mulia
turunan
Keempat : kebaikan atau keutamaan tafiki, yaitu empat : hidayat Allah,
pimpinan, sokongan dan bantuan-Nya.
Semua saling berkaitan untuk menyempurnakan menuju kebahagiaab sejati yaitu kebahagiaan uhkrawi. Jalan yang harus di tempuh untuk menuju kebahagiaan yang hakiki adalah ilmu dan amal, yakni melalui latihan-latihan kerohanian. Inilah jalan para sufi, orang-orang shaleh, shadiqin dan para nabi. Adapun jalan lain yaitu melalui nalar atau aqli. Namun menurut al-Ghazali jalan ini kurang sempurna karena akal manusia sangat terbatas untuk mencapai kebenaran hakiki sehingga dirasa kurang efektif bagi seseorang untuk menemukan tujuan akhir yaitu kebahagiaan hakiki.





4. Pengaruh kebesaran Al-Ghazali
Kajian mendalam terhadap pemikiran al-Ghazali nampaknya tidak akan pernah padam karena karyanya memang dibutuhkan di seantero dunia muslim. Berbedea di belahan dunia barat kajian pemikiran dunia muslim cenderung terhenti. Upaya untuk membuat kajian pun jarang dilakukan. Ide-idenya sudah dianggap final oleh para pengikutnya.
Sebelum al-Ghazali menulis buku Tahayul al-Fialasifah ia telah menulis buku maqashidul falasifah menurut metode buku An-Najah oleh Ibnu Sina yang terdiri dari masalah mantiq, alam dan kebutuhan. Dalam buku tahayul al-Falasifah ia mengkoreksi hal-hal yang dianggapnya keliru dalam pemikiran kaum filosof.
Dengan munculnya buku Tahaful al-falasifah muncullah beberapa pertanyaan sebagai berikut :
1. Dengan menentang filsafat, masih dapatkah al-Ghazali disebut sebagai filosof ?
Untuk jawabannya dapat dikemukakan uraian sebagai berikut : Al-Ghazali tetap sebagai seorang filosof meskipun ia menentang filsafat yang berkembang pada masa sebelumnya, karena :
Al-Ghazali memaparkan bantahan-bantahannya terhadap filsafat dengan analisa filsafat pula. Bahkan bantahannya disampaikan secara lebih kritis lagi. Mematahkan pendapat yang sudah berkembang dengan pendapat baru tidak boleh dikatakan keluar dari inti permasalahan. Argumen filsafat dibalas dengan argumen filsafat pula tidaklah dapat dikatakan orag yang membalas itu keluar dari pemikiran fisafat. Dalam permasalahan yang sama mereka hanya berbeda pendapat. Hal ini mungkin oleh pengaruh sosial dan kultural yang mempengaruhi jalan pikiran masing-masing.
Setelah Al-Ghazali ditimpa penyakit kebimbangan ia menyendiri mencari inti kebenaran sejati, lantas ditemukannya jalan sufi. Disini tampak bahwa jalan pencariaannya terhadap kebenaran bukan didasarkan pada iman semata, tetapi diawali dengan akal. Pencarian kebenaran yang dimulai dengan akal adalah pencarian fisafat.
Selain itu pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh Al-Ghazali adalah termasuk dalam kajian filsafat agama. Maka ia masih berhak disebut filosof, bahkan ada orang yang menyebutnya sebagai filosof yang murni dan hakiki. Karena ia tidak menerima pengaruh dari filosof-filosof sebelumnya seperti Aristoteles.
2. Benarkah bahwa buku Tahafut al-falasifah ini menjadi penyebab terhentinya pemikiran filsafat didunia Islam bagian timur untuk masa-masa sesudah Al-Ghazali?
Untuk menuduh Tahafut sebagai sumber terhenti pemikiran fisafat pada belahan Timur dunia Islam adalah kurang tepat. Terhentinya pemikiran filsafat bukan semata-mata karena buku tersebut. Tetapi karena komplikasi dari fenomena-fenomena sosiologis yang tengah terjadi di dunia islam saat itu.


BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Dari beberapa uraian diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa Al-Ghazali adalah seorang yang cinta terhadap ilmu pengetahuan dan dapat menyikapi hakekat kehidupan secara baik. Beliau mempunyai keberanian untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan mayoritas ulama. Atas pemikiran dan keberaniaannya inilah, beliau telah menorehkan sejarah perjuangan filsuf muslim. Singkatnya semua upaya Al-Ghazali yang betul-betul ikhlas telah mewujudkan keteladanan. Beliau sangat berakhlak, zuhud, sederhana, toleran, dan pemaaf. Itulah hal-hal yang membuatnya begitu terhomat dalam sejarah manusia.
Al-Ghazali juga menentang ilmu kalam dan ulama kalam, namun ia tetap menjadi seorang tokoh ilmu kalam. Tantangannya hanya ditujukan kepada tingkah laku mereka dan kejauhan hati mereka dari agama yang dipertahankan mereka melalui opini. Al-Ghazali punmengambil jalan tasawuf, tapi membebaskan tasawuf dari setiap tindakan yang dapat menjatuhkannya dari Islam.
Dalam setiap langkahnya, baik berhadapan dengan filosuf ataupun dengan ulama kalam ataupun orang-orang tasawuf, ia hanya mempunyai tujuan saja, yaitu menghidupkan semangat baru bagi Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maududi, Abdul A’la. 1984. Sejarah Pembaharuan dan Pembangunan Kembali Alam Pemikiran Agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Abdullah, Amin, Dr. M. 2004. Studi Agama Normativitas Atau Pistovisitas. Jakarta : Pustaka Pelajar.

Ahmad Amin, husayn. 2001. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ahmad Shadali, Drs. H. MA. dan Mudzakir, Drs. 1997. Filsafat Umum. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Ali,Yusril. 1991. Perkembangan Pemikiran Filsafat Dalam Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

http://wikipedia Bahasa Indonesia; Ensiklopedia Bebas, diakses 09.31,14 Desember 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar